Syarat-syarat minimum rumah aman gempa dengan dinding tembok bata/batako dan perkuatan beton bertulang

Rumah adalah tempat tinggal manusia dengan harapan memperoleh kenyamanan, keamanan, ketenangan, keteduhan, terlindung dari panas, angin serta hujan di dalamnya. Manusia tentu tidak mengharapkan datangnya bahaya dan bencana menimpa rumah tempat dia tinggal. Namun datangnya bencana tidak bisa ditebak dan ditolak. Fenomena gempa bumi menjadi sesuatu yang akrab bagi masyarakat Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia terletak di jalur subduksi empat lempeng tektonik, lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik dan Philipina. Pertemuan empat lempeng tektonika inilah yang menyebabkan terjadinya gerakan-gerakan baik lipatan maupun patahan. Gerakan-gerakan lempeng tektonik inilah yang disebut subduksi dan mengakibatkan gempa tektonik. Subduksi ini juga yang menyebabkan terbentuknya gunung berapi . Saat ini Indonesia tercatat memiliki 129 gunung api aktif dan jika beraktivitas sering menimbulkan guncangan yang disebut gempa vulkanik. Namun karena intensitas getaran gempa tektonik jauh lebih kuat dibandingkan dengan gempa vulkanik, maka getaran gempa yang merusak bangunan kebanyakan disebabkan oleh gempa tektonik.

Kemajuan dan kemampuan teknologi yang dimiliki saat ini pun masih belum bisa memprediksi waktu dan tempat terjadinya gempa belum dengan baik. Dari semua fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah terjadinya gempa, namun bisa meminimalkan resiko dengan mempersiapkan struktur bangunan yang aman gempa. Sebuah bangunan dikatakan aman gempa, apabila pada saat gempa terjadi (terutama gempa besar) bangunan tersebut masih bisa berdiri selama waktu yang diperlukan sehingga orang yang berada dalam rumah/bangunan mempunyai cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Konsep dasarnya adalah meminimalkan adanya korban jiwa akibat kerusakan bangunan.

Mengapa bangunan yang didirikan mudah roboh pada saat gempa? Para ahli gempa, teknik dan konstruksi bangunan sepakat bahwa penyebab utama jatuhnya korban jiwa adalah kurangnya kualitas dan standar suatu bangunan (mengabaikan mutu bahan, struktur bangunan serta teknik pengerjaan yang benar).
Karena itu pemerintah melalui SNI – 1726 – 2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, secara spesifik menyebutkan bahwa standar tersebut dibuat dengan :
1. menghindari terjadinya korban jiwa manusia oleh runtuhnya gedung akibat gempa yang kuat;
2. membatasi kerusakan gedung akibat gempa ringan sampai sedang, sehingga masih dapat diperbaiki;
3. membatasi ketidaknyamanan penghunian bagi penghuni gedung ketika terjadi gempa ringan sampai sedang;
4. mempertahankan setiap saat layanan vital dari fungsi gedung.

Bangunan Aman Gempa


Secara prinsip tidak ada bangunan yang 100% tahan terhadap gempa. Tingkat kerusakan bangunan tergantung pada beberapa faktor diantaranya, konstruksi bangunan, jarak bangunan dari pusat dan jalur gempa serta skala gempanya sendiri. Filosofi bangunan aman gempa disesuaikan dengan 3 kategori kekuatan gempa yaitu gempa ringan, sedang dan besar. Dasar filosofi perancangan bangunan aman gempa tersebut adalah :
1. Bila terjadi gempa ringan, maka bangunan aman gempa tidak boleh rusak sama sekali. Komponen bangunan terdiri dari komponen struktural yakni komponen penopang atau pendukung bangunan, umumnya berupa sistem rangka. Sistem rangka tersebut terdiri dari pondasi, tiang/kolom, balok, dan kuda-kuda. Kemudian ada juga komponen non-struktural yang sifatnya arsitektural dan bukan merupakan komponen pendukung tapi sifatnya pengisi. Komponen pendukung ini terdiri dari bata, pintu, kusen, langit-langit, dan atap yang bersifat pembatas atau penutup. Bila terjadi gempa kecil atau ringan, dalam konsep bangunan aman gempa, komponen struktural dan non-struktural ini tidak boleh rusak sama sekali.
2. Bila terjadi gempa sedang, maka komponen non-struktural boleh rusak, tapi komponen struktur tidak boleh rusak.
3. Bila terjadi gempa besar, maka strukturnya tidak akan mampu menahan sehingga pasti akan rusak tetapi tidak boleh roboh. Secara teknis, hal ini dapat dilakukan dengan memberi kekuatan yang lebih pada penyangga penopang vertikalnya atau tiangnya, sedangkan yang lainnya diperlemah. Apabila terjadi gempa, komponen lainnya akan retak, dan apabila retak maka energinya terserap pada komponen tersebut. Retak merupakan proses penyerapan energi. Sehingga ketika getaran selesai, karena tiang tadi kuat, ia tidak akan terganggu karena energi terserap pada yang lain dan bangunan tidak akan roboh. Konsep rumah aman gempa ini akan bekerja kalau 3 hal berikut dipenuhi yaitu: ukuran komponen bangunan sesuai persyaratan minimal, semua elemen bangunan tersambung dengan baik, dan pembangunan dilaksanakan dengan kontrol kualitas yang ketat.
Merancang Rumah yang Aman Terhadap Gempa


Ada perbedaan yang cukup signifikan antara konsep bangunan gedung dan rumah yang aman terhadap gampa. Pada rumah tinggal, yang dipentingkan jangan ada korban jiwa. Sementara itu pada gedung bertingkat, yang dipentingkan adalah jangan ada korban jiwa dan jangan sampai elemen struktur terjatuh dan terguling.

Perkuatan terhadap rumah tinggal dan bangunan bertingkat jauh berbeda. Perkuatan dilakukan
berdasarkan kerusakan bangunan. Pada rumah tinggal, sekitar 90% kerusakan yang terjadi disebabkan karena tidak memakai angkur. Untuk rumah bertingkat, yang harus dilakukan adalah penelitian kondisi bangunan dan struktur bangunan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan pembangunan Rumah Aman Gempa. Secara sedehana definisi rumah aman gempa adalah bangunan atau rumah warga yang dibangun dengan biaya terjangkau, penggunaan bahan berkualitas, harga terjangkau serta struktur serta teknis pengerjaan yang baik dan benar.

Dalam merancang sebuah rumah yang aman terhadap gempa, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

persyaratan umum dan tata letak bangunan

1. Denah yang sederhana dan simetris
Rumah dengan denah dan elemen-elemen struktur penahan gaya horizontal yang simetris, dapat menahan gaya gempa lebih baik karena kurangnya efek torsi dan kekuatannya yang lebih merata. Denah yang simetris ini lebih stabil terhadap gempa dari segala arah.
2. Bahan bangunan harus seringan mungkin
Besarnya gaya gempa yang diterima suatu bangunan, tergantung dari besarnya percepatan gempa dan berat total dari bangunan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam Perencanaan Bangunan Tahan Gempa dikenal istilah bahwa semakin ringan bobot bangunan, maka gaya gempa yang diterima bangunan akan jauh berkurang. Bahan yang ringan memiliki resiko yang lebih kecil mencederai orang. Bahan bangunan sendiri harus dipilih yang memiliki kualitas baik. Bahan-bahan dasar seperti pasir, kerikil, semen, air, bata (batako), kayu, batu, dan besi sebaiknya memenuhi standar jumlah dan kualitas yang memadai, tidak dalam kondisi rusak, lapuk (kayu), berkarat (besi), atau terkontaminasi bahan lain yang bisa mengurangi kualitas bahan tersebut. Selain itu pemilihan bahan disesuaikan dengan model bangunan, karakter yang diinginkan, kemampuan dalam mendukung fungsi bangunan serta memenuhi nilai estetika. Berikut beberapa persyaratan bahan bangunan yang harus diperhatikan :
a. Pasir, berasal dari sungai/darat, bebas dari tanah/lumpur serta bahan organik
b. Kerikil, berasal dari sungai/darat, bebas dari tanah/lumpur dan bahan organik, memiliki diameter 1-2 cm
c. Semen, jenis Portland cement, tidak mengeras dan mengering, tidak tercampur material lain
d. Air, bersih, tidak berwarna/berbau, tidak boleh mengandung : minyak, asam, alkali, garam, bahan organik yang merusak beton dan besi tulangan
e. Batu Bata, dibakar dengan sempurna, rata/tidak melengkung, tidak mudah pecah/retak, ukuran seragam, utuh, ukuran minimal 20x10x5 cm
f. Batako, conblock, sebaiknya terbuat dari adukan beton, utuh, tidak retak-retak
g. Kayu, kering, lurus, tidak retak-retak, tidak banyak mata kayu, telah dianti rayap
h. Batu belah, ukuran diusahakan seragam, permukaan kasar/tidak halus
i. Besi tulangan, ukuran seragam, memenuhi syarat-syarat yang berlaku, tidak karatan, lurus, sesuai dengan gambar (hasil perhitungan)
3. Sistem konstruksi penahan beban yang memadai
Agar suatu bangunan bisa dibilang tahan gempa, maka setiap elemen struktur mulai dari atap, ring balok, dinding (kolom), sloof, sampai pondasi, harus mampu bekerja menyalurkan gaya inersia gempa sampai ke tanah. Kekenyalan struktur sangat ditekankan untuk mencegah keruntuhan bangunan. Semua komponen bangunan, yang meliputi pondasi, kolom, balok, dinding, rangka, dan atap harus disambung satu dengan yang lainnya agar jika digoncang gempa, bangunan akan bergetar sebagai satu kesatuan; tidak tercerai-berai, yang bisa menyebabkan bangunan ambruk dengan cepat. Selain itu perlu juga diperhatikan kualitas dan cara pengerjaan suatu bangunan, meliputi campuran yang tepat, ukuran yang sesuai, dan teknik penyambungan/pemasangan yang benar.
Gempa memang fenomena alam yang tidak bisa dihindari dan ditolak. Namun dengan segala kemampuan yang ada manusia bisa meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. Prinsip di atas adalah dasar dalam membuat rumah aman gempa. Toh masih diperlukan sentuhan arsitektural untuk membuatnya benar dari segi struktur dan konstruksi serta indah secara estetika.

Sumber Gambar : Teddy Boen dan Rekan

 

*Tulisan ini bisa pula dijumpai di Tabloid Hunianku edisi 20

About 19design

Architecture Interior and Landscape's solution

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s